Ditulis oleh m4nurung di/pada 19Februari , 2008
April 2004, ketika ANTEVE memberi penghargaan “Women of the Year“ kepada perempuan bernama asli Saur Marlina Manurung ini, ia mulai santer dibicarakan. Apalagi ketika Oktober kemudian majalah TIME Asia menobatkannya sebagai salah satu “TIME Asia’s Heroes”, mata Indonesia pun terbuka.Butet lantas dipuji, disanjung dan ada pula yang mengklaim, Butet adalah Kartini jaman sekarang. Dan 5 Januari kemarin, ketika Butet mempresentasikan bukunya “SOKOLA RIMBA,” di ruang sidang perpustakaan Universitas Sumatra Utara, Selasa (5/2), ia disanjung lagi (bahkan) bagaikan selebritis.
Ya, Butet adalah sosok yang inspiratif dengan apa yang telah ia lakukan. Bahkan, seorang Presiden Susilo Bambang Yudoyono pun tak begitu saja menutup mata pada spirit kepahlawan Butet, perempuan kelahiran Jakarta, 12 Februari 1976 itu.
Dalam artikelnya, The Making of a Hero, yang diterbitkan di majalah TIME Asia, edisi 3 Oktober 2005, Presiden SBY mengawali tulisannya dengan kalimat: “Every society needs heroes. And every society has them. The reason we don’t often see them is because we don’t bother to look.” Setiap masyarakat membutuhkan figur pahlawan. Dan setiap komunitas sebenarnya memilikinya. Hanya saja kita sering mengabaikannya, itu karena kita sering menutup mata padanya.
Apa yang dilakukan Butet setidaknya juga telah menginspirasinya kembali untuk melahirkan “SOKOLA RIMBA”, buku “diary” yang ditulis Butet berdasarkan pengalamannya selama mengabdi di bagi komunitas Orang Rimba di pedalaman Bukit Dua Belas Jambi.
Buku setebal 250 halaman yang ia rangkum selama rentang waktu enam tahun ini, selain banyak bercerita dari sudut pandang Butet sebagai pendidik dengan berbagai tantangan yang dihadapinya, juga menceritakan kultur Orang Rimba yang kerap dianggap bodoh, miskin, primitif dan stereotip negatif lainnya.
“Padahal, mereka sebenarnya memiliki kehidupan sendiri yang sama sekali jauh dari stereotip itu,” kata Butet. “Orang sering menyebut mereka (Orang Rimba) Kubu, padahal arti Kubu sebenarnya memiliki kesan merendahkan,” jelas Butet lagi. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam manurung menyapa dunia | Bertanda: butet, idealism, manurung, pendidikan, pengabdian, profil, suku terasing | 17 Komentar »
Ditulis oleh m4nurung di/pada 31Desember , 2007
Selamat tahun baru buat semua pengunjung blog ini. Mudah-mudahan pada tahun 2008 ini kita semua mendapat berkat dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Salah satu keprihatinan kita dalam suasana tahun baru ini adalah krisis lingkungan yang sudah mencapai taraf gawat darurat. Kalau selama ini isu lingkungan masih terkesan sebagai wacana akademis, ekstrakurikuler atau hobi, kini sudah menjelma jadi agenda sosial-politik yang serius. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam manurung menyapa dunia | Bertanda: artikel, manurung united...., selamat tahun baru 2008 | 6 Komentar »
Ditulis oleh m4nurung di/pada 23Desember , 2007
Horas ma di hita sude pangisi ni portibi on
Salam damai untuk seluruh penduduk bumi
MANURUNG United adalah versi moderen dari tagline yang sudah berurat berakar selama berabad-abad : Manurung sipolin-polin. Manurung satu warna, itulah terjemahan bebas istilah bahasa Batak kuno ini. Sebuah wasiat suci yang diwariskan turun-temurun, agar setiap marga Manurung menjaga kesatuan dan solidaritas Manurung untuk selamanya.
Manurung sipolin-polin adalah buah kearifan para leluhur Manurung yang memiliki visi futuristik, bahwa setelah mereka berlalu ada kemungkinan keturunannya mengalami perpecahan. Potensi ke arah itu memang ada berhubung Raja Manurung memiliki tiga anak : Hutagurgur, Hutagaol, Manoroni. Namun berkat adanya wasiat suci tadi, sampai detik ini Manurung masih satu.
Kalau dibandingkan dengan perpecahan di banyak marga yang umumnya disusul dengan “proklamasi” marga baru, keutuhan Manurung hingga detik ini merupakan prestasi yang menarik untuk dikaji. Manurung adalah salah satu marga tertua, merupakan generasi keenam dari leluhur etnis Batak yaitu Raja Batak. Kalau dicermati silsilah marga-marga lain, sebagian besar sudah pecah pada generasi keempat. Tak sedikit di antara sub-sub marga kemudian pecah lagi, membentuk sub-sub marga baru yang nantinya bakal pecah lagi berkali-kali. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam manurung menyapa dunia | Bertanda: horas, manurung sipolin-polin..., perdamaian, persaudaraan | 77 Komentar »