Hikayat Ompu Gumara Manurung
Ditulis oleh m4nurung di/pada 15Januari , 2008
SERUMPUN kayu “Bintatar” berumur ratusan tahun ditemukan di Janjimatogu, Kecamatan Uluan, Tobasa. Kayu tersebut terlihat berbatang banyak karena batang aslinya sudah tidak ada lagi. Akar yang menggantung dari dahan sampai ketanah akhirnya menopang kayu tersebut, sehingga terus bergenerasi dan terlihat seperti kumpulan banyak batang kayu.
Konon menurut ceritera, kayu itu dulunya dari sebatang alat penumbuk (alu) dari kayu, yang tumbuh berkat kesaktian Ompu Gumara Manurung.
Ompu Gumara Manurung adalah turunan ke-4 dari Tuan Sogar Manurung dari raja Puni Harian Manurung. Dia mempunyai dua isteri yaitu Sonaklan br Sitorus dan Tornagodang br Nainggolan. Ompu Gumara adalah 3 orang bersaudara, semasa mudanya bernama Guru Martaja. Keluarganya selalu dipecundangi oleh 11 orang bersaudara turunan Paliang Manurung, saudara sepupu mereka dari Puni Harian Manurung yang juga keturunan Tuan Sogar Manurung.
Berbagai siasat dilakukan keturunan Paliang untuk mengusik dan merugikan Ompu Gumara. Salah satunya, sering membentangkan tikar menutupi halaman sampai di depan rumah Ompu Gumara, sehingga kerbaunya tidak dapat dikeluarkan dari kandang.
Tidak ada cara lain lagi bagi Ompu Gomara selain menyingkir meninggalkan kampung halamannya. Niat itu disampaikan kepada ibundanya sambil memberikan pertanda, yaitu menancapkan alu layaknya menanam pohon. Dia katakan kepada ibundanya, apabila kayu itu tumbuh, itu pertanda dia masih hidup. Tapi sebaliknya kalau tidak tumbuh, artinya dia tidak hidup lagi.
Sementara itu niat jahat yang hendak dilakukan keturunan Paliang sampai ke telinga saudaranya perempuan, Boru Pinabun yang menikah ke marga Sitorus di Lumban Nabolon. Dia mendapat firasat mengenai nasib nahas yang bakal menimpa saudaranya itu. Lalu dicarinya akal. Dia datang ke kampung saudaranya itu layaknya kunjungan biasa. Di luar rumah, keturunan Paliang sudah menunggu hendak menyeret Ompu Gumara keluar rumah.
Boru Pinabun membungkus Ompu Gumara dengan tikar dan menjatuhkannya keluar rumah. Kepada orang yang menyaksikan dia katakan, bahwa tikar itu dia ambil sebagai “parsiholan”, kenangan dari orangtuanya.
Boru Pinabun memikul tikar yang agak berat itu keluar kampung dan disana sudah menanti seekor kuda yang sudah dia siapkan sebelumnya. Ompu Gumara diselamatkan.
Ompu Gumara berangkat dari Lumban Nabolon mencari ilmu pengetahuan ke Samosir sampai ke Batang Toru dan kemudian tidak ada kabar beritanya.
Kedua isterinya menderita dan dirundung kesedihan mengenang nasib suaminya. Sepupu-sepupu suami mereka berniat mengawini kedua isteri yang berduka itu, maka setiap kali alu yang ditanam Ompu Gumara mengeluarkan tunas, langsung mereka patahkan. Jadinya, kedua isteri yang malang itu tak pernah melihat tunas tumbuh pada alu tersebut.
Kedua saudaranya membujuk dan meyakinkan bahwa Ompu Gumara tidak hidup lagi, karena alu yang ditanam tidak tumbuh. Namun kedua isteri Ompu Gumara tidak mau percaya begitu saja, sebab mereka lihat kayu alu tersebut tidak pernah mengering. Lalu mereka putuskan bertanya kepada orang pintar (datu). Untuk lebih memastikan bagaimana kebenarannya.
Datu menganjurkan keluarga itu “mardebata” (sejenis kegiatan ritual minta petunjuk dari Tuhan Yang maha Kuasa). Dari pertanda yang didapatkan datu melalui upacara itu dipastikan bahwa Ompu Gumara masih hidup. Sang datu berseru mohon petunjuk lebih jelas akan kepastian hidupnya Ompu Gumara.
Tiba-tiba angin bertiup kencang melintasi tempat upacara dan tiba-tiba daun lontar (motung) berterbangan sangat banyak, sehingga menumpuk di halaman upacara. Hujan deras pun turun hingga peserta upacara dan penonton tidak dapat meninggalkan tempat. Diantara penonton itu juga hadir keturunan Paliang. Tiba-tiba Ompu Gumara muncul di tengah-tengah mereka, lalu hujan reda sehingga merekapun mengenali wajahnya. Kegembiraan dan kekecewaan campur baur dalam kerumunan itu. Keturunan Paliang kemudian beranjak satu-persatu.
Melihat kesaktian Ompu Gumara, keturunan Paliang tidak lagi berusaha meneruskan niat buruk mereka. Kesaktian dan kebijaksanaan selama pengembaraannya mencari ilmu menjadi pedoman kepada keturunannya, agar tidak membalaskan dendam atas segala kejahatan yang diterimanya.
Pada dinding rumahnya dituliskan pesan (tona) dalam aksara batak “Ingot, unang maingothu” Ingat, jangan terlalu ingat. Pesan ini menjadi amanat khusus bagi turunan Ompu Gumara sehingga tidak dendam kepada turunan Paliang.
Sampai saat ini keturunan Ompu Gumara dan keturunan Paliang tidak pernah mempermasalahkan masa lampau.
Ceritera ini dituturkan secara lisan oleh
Ompu Juventus Manurung
di Janjimatogu tanggal 26 Juli 2007
***artikel ini aku ambil dari blog Partungkoan Tano Batak. Naskah asli ditulis oleh Monang Naipospos, kemudian aku sunting di beberapa bagian agar sesuai dengan gaya penulisan di blog ini. Mauliate Amang boru Monang. Horas. (Bob Manurung)
iwan berkata
batak kalik kau ini… :p
monang manurung berkata
sebenarnya cerita ompu gumara tersebut masih kurang lengkap seharusnya lebih lengkap hal ini sangat diperlukan untuk generasi sekarang bagaimana riwayat hidup setelaH OMPU GUMARA meninggal dimana dan berapa anak keturunannya tidak ada yang memberi tanggapana ?
vai berkata
ternyata manroe yg dari janjimatogu keturunan datu juga iya…. ha…ha…ha..ha, eit ati-ati.
jonathan manurung berkata
ati ati klo ngomong…..
ntar disantet lagi…
hehe…
just kidding
anton berkata
surprised baca hikayat ini,,,manurung memang harus tetap bersatu sekalipun masa lalu yang penuh permusuhan