Selamat Tahun Baru 2008
Ditulis oleh m4nurung di/pada 31Desember , 2007
Selamat tahun baru buat semua pengunjung blog ini. Mudah-mudahan pada tahun 2008 ini kita semua mendapat berkat dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Salah satu keprihatinan kita dalam suasana tahun baru ini adalah krisis lingkungan yang sudah mencapai taraf gawat darurat. Kalau selama ini isu lingkungan masih terkesan sebagai wacana akademis, ekstrakurikuler atau hobi, kini sudah menjelma jadi agenda sosial-politik yang serius.
Pasalnya, korban mulai berjatuhan dimana-mana dan makin jelas korelasinya dengan pengrusakan lingkungan yang berlangsung sistematis. Masyarakat awam kini mulai terbuka matanya bahwa banjir, longsor dan krisis air bukan bencana alam bersifat alamiah, melainkan dampak kebijakan politik pemerintah yang amburadul dan korup.
Krisis lingkungan adalah bom waktu yang siap meledak dan akan menimbulkan krisis sosial yang mengerikan. Pertikaian dan sengketa akibat krisis lingkungan kini makin merebak di masyarakat, di semua daerah di negeri tercinta ini.
Tano Batak pun tidak terkecuali, terutama kawasan ekosistem sangat luas di seputar Danau Toba, kini sudah termasuk kategori kritis. Sulit mengharapkan penduduk setempat mengambil inisiatif penyelamatan, karena dalam situasi ekonomi yang makin megap-megap masyarakat cenderung mencari jalan pintas, yaitu membabat hutan.
Inilah saatnya para perantau Batak yang tersebar di seluruh dunia mengambil inisitif dan peran utama untuk menyelamatkan lingkungan di Tano Batak. Jangan hanya mengirim mayat ke kampung halaman atau memperlakukan saudara-saudara di kampung sebagai kambing congek, disuruh menonton pameran sukses para perantau.
Selamat Tahun Baru 2008
Semoga Debata Mulajadi Nabolon memberkati kita semua.
PEACE
Horas
Bob Manurung
Entri ini dituliskan pada 31Desember , 2007 pada 10:56 pm dan disimpan dalam manurung menyapa dunia. Bertanda: artikel, manurung united...., selamat tahun baru 2008. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.
Monang Naipopos berkata
Horas ma di hamu saluhut hulahulangku Manurung. Boru Manurung do nahualap sian Sibuntuon Uluan.
Bila saya berkunjung ke kampung mertua, keprihatinan pun muncul diperjalanan. Belum membicarakan kadar kemiskinan yang nampak jelas di daerah Uluan sana. Jalan dari Porsea Ke Janjimatogu hingga Seregar Aek Nalas tidak pernah sempurna lebih dari satu tahun. Tambal sulam yang tidak berkualitas sehingga 6 bulan sudah kupak-kapik.
Saya heran, padahal ada 3 jenderal dari daerah itu termasuk rajai Timor Manurung. Anggota DPR RI Saidi Butarbutar juga darisana.
Bila jalan yang kita lintasi setiap hari tidak bisa terpelihara dengan baik, bagaimana masyarakat memahami ekosistem itu?
Hamu angka hulahula i saya lihat banyak sudah intelektual yang terpandang di masyarakat, mari kita lakukan dulu hal yang terkecil, yang terdekat dengan kehidupan kita, pencerahan kepada masyarakat di kampung halaman. Mereka perlu penguatan pikir dan gerakan untuk memperjuangkan haknya atas lingkungannya, ekonomi dan kebudayaannya.
Molo tung pajolohu au angka rajanami, paukpauk hudali ma, pagopago tarugi, natading taulagi, naseda tapauli. Horas
tobasa berkata
Hai..belum ada komentar di tulisan ini,
Saya mau buat comment tapi tidak ada hubungan dengan topik. CUma mau tanya : Apa yang sudah kamu perbuat bagi tanah batak? Tidak ada maksud apa-apa bang..sekadar mengingatkan saja..
Mauliate
Horas
http://tobasa.wordpress.com
m4nurung berkata
@ Amangboru Monang Naipospos
Terima kasih amangboru atas kunjungan dan komentarnya. Aku pengunjung setia Partungkuoan Tano Batak. Aku senang dan bangga atas semua jerih payah amangboru melestarikan dan memajukan budaya batak melalui artikel-artikel bermutu dan inspiratif di blog itu. Apalagi aku dengar bagaimana perjuangan amangboru menyelenggarakan blog itu : SALUT!
Apa yang amangboru lukiskan mengenai keadaan jalan yang rusak dan kemiskinan di Uluan memang sangat memprihatinkan. Ini cambuk bagi penduduk dan perantau dari daerah tersebut, yang nota bene adalah mayoritas bermarga Manurung. Sangat kontras dibandingkan dengan jalan beraspal yang sangat mulus dari Siraituruk sampai Lumban Nabolon.
Aku setuju dengan saran amangboru mengenai perlunya pencerahan kepada masyarakat di kampung. Ini kuterima sebagai masukan sekaligus PR.
Mauliate
Horas
m4nurung berkata
@ Tobasa
Alangkah bagusnya kalau lae/appara/ito ini memperkenalkan diri secara terbuka, supaya bisa aku sapa dengan benar. Tapi kalau memang itu sudah pilihan untuk anonim dan tak berjenis kelamin, apa boleh buat, akupun akan menyapa engkau sekenanya.
Kau bertanya apa yang sudah aku perbuat bagi Tanah Batak. Aku jawab, belum ada kawan. Tapi saat ini aku dan sejumlah kawan sesama perantau di Jakarta sedang mempersiapkan segala yang diperlukan untuk menanam pohon di perbukitan gundul di Samosir. Tolong doakan agar upaya kecil itu berjalan dengan baik dan menjadi titik tolak bagi kita semua untuk melakukan hal-hal positif lainnya demi menyelamatkan lingkungan di Tano Batak.
Kami menginginkan upaya penyelamatan lingkungan di Tano Batak diubah dari yang sifatnya mobilisasi menjadi partisipasi, dari yang sifatnya seremonial dan instan menjadi rentetan upaya kecil berkelanjutan dan bersifat swadaya.
Terima kasih atas atensinya. Horas.
Togar Silaban berkata
Kadang-kadang menjadi anonim itu mengasyikkan, kita bisa membidik orang lain, tanpa sasaran itu tau siapa kita. Itu juga yang sekarang sering terjadi di dunia Blog. Memang, blog menyediakan tempat yang bagus untuk anonim. Tapi kalau benar kita mau berbuat sesuatu yang benar di Tanah Batak, saya rasa dimulai dengan identitas kita yang benar, supaya apapun yang kita ucapkan/tuliskan dan lakukan bisa dicari pertanggungjawabannya.
Horas lae m4nurung, salam kenal.
m4nurung berkata
@ Lae Togar Silaban
Tanpa banyak cincong, aku langsung mengaku bahwa apa dikatakan Lae Silaban : BOTUL.
Aku terima kritik lae dalam term “manarita” yang sangat khas Batak, yaitu mengkritik karena merasa dekat, merasa punya hak dan kewajiban melakukannya serta karena sayang.
alai lean ma jo di ahu “dispensasi” ate Lae, annon hurungkar pe sapatar-patarna ise do ahu laemon. Huparhatutu do sude nanidokmi Lae,”…kalau benar kita mau berbuat sesuatu yang benar di Tanah Batak, saya rasa dimulai dengan identitas kita yang benar…”
Mauliate.
Horas ma di hita sude.